MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN

Burhan Eko, Purwanto (2001) MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN. In: Seminar Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa dalam Rangka Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2001, 8 November 2001, di selenggarakan Slawi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal. (Unpublished)

This is the latest version of this item.

[img] Text
BAHASA PERSATUAN.doc

Download (33kB)
[img] Text
jpg2pdf (20).pdf

Download (585kB)

Abstract

Sumpah Pemuda yang telah diikrarkan 77 tahun yang lalu, dapat dipersoalkan hingga ke mana kini putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan itu? Bagaimana sikap putraputri Indonesia sendiri terhadap bahasa Indonesia? Seakan-akan ada semacam kesan bahwa yang berbahasa Indonesia itu kurang pintar, kurang berhasil, kurang berkedudukan; ya, kurang segalagalanya, jika dibandingkan dengan yang berbahasa asing. Minat belajar bahasa Indonesia dirasa masih sangat kurang, Kecuali orang asing, tampaknya tak seberapa besar jumlah orang yang berhasrat memperbaiki bahasa Indonesia yang dikuasainya. Dan sayang sekali, justru di kalangan para cendekiawan, sudah menjadi mode untuk memperagakan kata-kata serta istilah-istilah asing dalam tuturan atau pun tulisannya. Syukurlah kalau penggunaannya baik dan tepat. Ada orang yang sangat gemar menggunakan kata-kata semacam interprestasi (pakai “s”) dan frustasi (tanpa “r”). Mungkin disangka ada hubungannya; atau interprestasi dikaitkan dengan prestasi, dan frustasi barangkali ada sangkutpautnya dengan ekstasi? Mudah-mudahan orang tidak frustrasi (pakai “r”) membaca interpretasi (tanpa “s”) yang disajikan ini. Itu hanya dua contoh. Saya tidak bermaksud menganjurkan agar kita semua kuliah bahasa Latin dahulu, bila ternyata banyak istilah intelek dalam bahasa persatuan kita berasal dari bahasa itu atau bahasa Sanskerta atau bahasa Arab. Saya hanya ingin menghimbau bila kita tak sempat lagi menjunjung bahasa kita sendiri, sedikit-dikitnya janganlah kita memperkosa bahasa orang lain. Andaikata Anda memperhatikan isi iklan yang terdapat di dalam surat kabar mengenai lowongan kerja, maka ternyata syarat yang kebanyakan diutamakan ialah mahir berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Jarang ada iklan yang berisi persyaratan kerja “mahir berbahasa Indonesia” tertulis maupun lisan. Padahal surat-menyurat di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Subjects: L Education > LB Theory and practice of education
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: Dr Burhan Eko Purwanto
Date Deposited: 29 Jan 2020 04:00
Last Modified: 29 Jan 2020 04:00
URI: http://repository.upstegal.ac.id/id/eprint/494

Available Versions of this Item

Actions (login required)

View Item View Item